Rubrik : Seputar Pasuruan
Ponpes Megah dan Modern di Kota Pasuruan
2010-03-01 16:09:14 - by : admin

Merealisasikan Mimpi sejak Kuliah, Tanah Dibeli Bertahap

Baru-baru ini warga Kota Pasuruan dikejutkan dengan sebuah
acara besar bersamaan dengan haul KH A. Hamid. Sebuah pondok bernama
Bayt Al-Hikmah siap dibangun. Bukan sembaranan ponpes. Pemasangan tiang
pancangnya saja disaksikan banyak ulama dan pejabat penting. Bahkan
pembangunan ponpes itu butuh Rp 100 M.

Kelurahan Krampyangan, Kecamatan Bugul Kidul
sekarang ini sedang menjadi sebuah target pembangunan pondok pesantren
modern. Tidak hanya modern, namun dibarengi pola pendidikan agamis yang
salafy.

Pesantren yang sudah mulai proses pembangunan
itu, disiapkan untuk menampung sedikitnya 2.700 orang santri. Dipenuhi
dengan sekolah-sekolah bertaraf internasional mulai level TK, hingga
SMA, serta SMK. Seluruh siswanya diwajibkan hidup di boarding school
(asrama) yang siap dibangun dengan empat lantai.

"Memang
luar biasa konsep Ponpes Al-Hikmah. Butuh sedikitnya dana Rp 100
miliar," kata H. Umar Faruq, ketua panitia pembangunan pondok tersebut.

Ide pendirian Ponpes Bayt Al-Hikmah, tidak bisa dilepaskan dari pemikiran seorang keluarga dalem Ponpes Salafiyah di Jl Kebonsari Pasuruan. Sebab, penggagas pertamanya
adalah Gus Idris A. Hamid yang tidak lain adalah putra dari KH A. Hamid.

Menurut kisahnya, Gus Idris punya impian membangun sebuah pondok modern tapi ditegakkan dengan prinsip ubudiyah yang bercorak salaf sejak dia masih mengenyam pendidikan di IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.

Ketika
itu, Gus Idris muda melihat banyak orang tua yang gundah dengan
pergaulan bebas anak-anaknya di tengah impian memberi bekal pendidikan
modern yang menjadi tuntutan zaman.

"Para orang tua itu
berusaha berburu pondok pesantren yang bisa menjawab keinginan mereka
bisa menyaksikan anak-anaknya memiliki kecukupan dalam bekal ilmu
agama, tapi tetap bisa sekolah bertaraf umum yang unggulan," kata Gus
Idris, seperti disampaikan oleh Gus Faruq.

Impian itupun
mulai direalisasikan sejak 12 tahun lalu. Gus Idris berusaha menabung
membeli tanah secara bertahap. Petak demi petak tanah di kawasan
Kelurahan Krampyangan, atau tepatnya di Jl. Patiunus Pasuruan itu
dibelinya.

Hingga akhirnya total tanah yang dimiliki
mencapai 15 hektare. Gus Idris mulai mengajak beberapa orang
terdekatnya untuk turut membicarakan bagaimana bisa mewujudkan
cita-citanya itu. Salah satu diantaranya adalah Gus Faruq. Hingga
akhirnya laki-laki yang juga pernah dua periode menjadi wakil rakyat di
DPRD kota ini dipercaya sebagai ketuanya.

Diskusi serius
pun digencarkan setiap minggu. Tempatnya berganti-ganti, hanya untuk
membahas bagaimana rancangan ponpes yang akan diwujudkan. "Kami
membahasnya sangat detail. Bagaimana soal desain, peruntukan pesantren,
hingga aktualitas santri, serta pola pendidikannya," ungkap Gus Faruq.

Setelah
dirasa semuanya siap, para penggagas Bayt Al-Hikmah itu kemudian juga
melibatkan para ahli, dan pakar berbagai bidang. Mulai dari pakar
pembangunan, kurikulum pendidikan, dan juga manajemen.

Salah
satu yang dilibatkan adalah Ibrahim Bafadhol, seorang akademisi
sekaligus pakar pendidikan dari Universitas Negeri Malang (UM). Saat
ini ia juga mengemban amanah mengelola Lembaga Pendidikan Sabilillah di
Malang.

Sosialisasi aktif untuk Bayt Al-Hikmah juga terus
dilakukan. Lantaran tidak bisa dilepaskan dari Ponpes Salafiyah,
pembangunan pondok tersebut juga dibahas bersama para alumni.

Tidak
cukup dengan konsep pemikiran yang disumbangkan. Bantuan berupa materi
yang tidak ternilai harganya juga menjadi konstribusi sebagian alumni.
"Sebuah bukti paling konkret adalah pengurukan tanah seluas itu yang
merupakan hasil jerih payah dan kerja sama antaralumni Salafiyah,"
jelas Gus Faruq lagi.

Gayung bersambut. Konsep pembangunan
Bayt Al-Hikmah juga mengusik kepedulian para dermawan. Bukan main,
mereka secara silih berganti menyampaikan kesiapannya membangun bagian
demi bagian dari pesantren itu dengan dana yang tidak sedikit.

Panitia
menyebutkan, ada dermawan yang siap membangun boarding school secara
utuh. Padahal untuk bangunan asrama bagi santri berlantai empat itu
dibutuhkan sedikitnya Rp 8 miliar. Masing-masing, Rp 4 miliar untuk
asrama putra, dan yang Rp 4 miliar lagi bagi asrama putri.

Tidak
cukup dengan sumbangan boarding school, dermawan yang lain juga
menyatakan siap membangun masjid untuk Bayt Al-Hikmah tersebut. Sedang
dananya mencapai Rp 2 miliar.

Dengan modal yang masih
terbatas itu, pesantren Bayt Al-Hikmah pun dimulai pembangunannya.
Bahkan bertepatan dengan sehari sebelum haul KH. Hamid, dilakukan
pemasangan tiang pancang, atau paku bumi. Disaksikan oleh banyak
masayikh, dan juga kalangan pejabat.

Istimewanya lagi KH.
Mustofa Bisri (Gus Mus) turut memberikan motivasinya untuk percepatan
pembangunan Ponpes tersebut, di sela-sela kehadirannya dalam rangkaian
haul waliyullah Romo Kiai Hamid tersebut.

Lalu, seperti apa
sebenarnya konsep pendidikan yang disiapkan Bayt Al-Hikmah, hingga
kebutuhan anggarannya bernilai ratusan miliar rupiah?

Menurut
Gus Idris, pesantren itu memang didedikasikan sebagai lembaga
pendidikan formal dengan visi mewujudkan pusat unggulan dalam
pengembangan SDM yang berbasis nilai-nilai spiritual yang salafy.

Prinsip
yang sedang dikuatkan adalah, bagaimana mencetak generasi muslim yang
memiliki karakter keimanan yang kuat, kemampuan akademis yang mumpuni,
serta penguasan teknologi informasi yang kompetitif. Yang tidak
ketinggalan adalah penguasaan bahasa asing yang memadai.

Jenjang
pendidikan yang akan dibuka cukup lengkap dan terpadu. Mulai di tingkat
RA/TK, SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA. Juga ada SMK dengan berbagai
jurusan keahlian. Konsep kurikulumnya adalah SBI dengan full day
school. "Insyaallah pada tahun 2011 nanti, kami sudah siap menerima
murid untuk tahun ajaran baru. Semoga target waktu itu terpenuhi,"
tegas Gus Faruq. (jawapos.com)


NUR LAILY A, Pasuruan

---

: http://www.pasuruan.info
Versi Online : http://www.pasuruan.info/article/1808/ponpes-megah-dan-modern-di-kota-pasuruan.html