Hektaran Sawah di Baujeng Beji Gagal Panen
Sebagian petani asal Tanggul, Desa Baujeng, Kecamatan Beji harus
menghadapi kekecewaan. Sekitar dua hektar sawah milik para petani itu
ludes diserang hama tikus. Padahal, sawah yang sudah mereka tanami
selama dua bulan lebih ini tinggal dipanen bulan depan.
Para
petani pun dibuat pusing dengan serangan tikus yang melanda dusun ini.
Beberapa petani sudah berusaha menjebak tikus dengan umpan Yuyu (sejenis kepiting kecil sawahan, Red). Tapi, upaya itu hampir tidak ada hasilnya.
Sebaliknya,
serangan tikus benar-benar membuat petani kalang kabut. Mulai daun
sampai biji padi yang mulai merekah disikat habis. "Petani sini sudah
berusaha menangkap dan memberi obat. Tapi, tetap saja tidak mempan,"
cetus Abdulloh, salah satu petani yang memiliki sawah seluas 4.200
meter persegi.
Abdulloh yang juga mantan kepala dusun Tanggul
ini mengaku sudah menyerah. Sawahnya seluas hampir setengah hektar
hanya menyisakan tanaman di bagian pinggir. Istilah petani disebut gantangan. "Ya, tinggal ini yang tidak dimakan. Yang lain ludes," keluhnya.
Padahal
sudah banyak biaya dia keluarkan. Abdulloh mengaku, sudah mengeluarkan
uang sekitar Rp 2juta - Rp 3 juta. Ini untuk biaya membajak sawah,
buruh tani mulai ngurit (penyiapan benih), matun (pembenihan), dawud (pemindahan benih ke lahan sawah) sampai menanam. "Untungnya kalau musim rendeng (penghujan) ini, pupuk tidak terserap banyak," cetusnya.
Selain
dirinya, menurutnya ada beberapa petani yang sawahnya diserang hama
tikus. Ada sawah milik H Mahmud, H Safuan, Ibu Kasan, Pak Tono dan
Ahmad. Ini belum termasuk petani lain yang belum laporan.
Ironisnya,
tikus yang menyerang sawah milik petani ini bukan jenis tikus sawah.
Tetapi, seperti tikus Tong-Tong yang bentuknya lebih besar. Tikus jenis
ini biasanya banyak "beroperasi" di got-got ketika banjir tiba. Karena
itu diduga, tikus Tong-Tong "bermigrasi" ke sawah saat wilayah Tanggul,
Baujeng juga dilanda banjir, beberapa waktu lalu.
Abdulloh
sendiri bersama para petani sebenarnya sudah memberantas dengan cara
membuat perangkap. Sehari bisa mendapatkan 3-5 tikus berbadan besar.
Tapi dengan cara itu, seolah tikus Tong-Tong yang lain makin menyerang
lahan petani. "Kalau miliknya H Mahmud ini mungkin belum banyak yang
dimakan. Tapi, hanya tinggal tunggu waktu. Pasti akan dimakan juga,"
imbuhnya.
Yang perlu diketahui petani menurutnya, setelah
dimakan tikus, tanaman pagi langsung berubah warna. Yakni merah,
seperti habis terbakar. Kondisi ini berbeda ketika tanaman padi dimakan
tikus jenis sawahan. "Jadi kalau dimakan, mulai daun sampai bijinya.
Terus sisanya langsung memerah seperti ini," terangnya sambil
menunjukkan tanaman yang sudah dimakan tikus.
Sementara
itu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ihwan mengaku sudah mendapat
laporan tentang hal tersebut. Pihaknya menegaskan sudah memberikan obat
padi untuk serangan hama tikus. "Kalau kurang, obatnya bisa kita
tambah. Dan itu sudah dilaporkan ke kami. Memang sawah di daerah
Tanggul itu terkena hama tikus," tegas Ihwan. (jawapos.com)




