Komparasikan Kurikulum dengan Cambridge
Target untuk menjadi sekolah berstandar internasional (SBI) definitif
membuat SMPN 1 Pandaan terus berbenah. Selain meningkatkan pelayanan
dan kapasits tenaga pendidiknya, sektor kurikulum juga mereka benahi.
Salah
satu caranya, selama tiga hari sekolah yang berada di Jl Raya
Kebunwaris, Pandaan ini menggelar workshop. Temanya, yaitu pengembangan
kurikulum nasional dengan kurikulum Cambridge. "Ini untuk pengembangan
kurikulum yang sudah kita terapkan selama ini," kata Humas SMPN 1
Bambang Dor, kemarin (7/2).
Bambang menyatakan, bagi sebuah
lembaga pendidikan keberadaan kurikulum cukup penting. Bahkan, boleh
dibilang kurikulum merupakan ruh atau nafas sebuah pendidikan. Tanpa
kurikulum yang jelas kata dia, pendidikan akan kehilangan arah.
Karena
itu, upaya pengembangan kurikulum mutlak diperlukan untuk mendapatkan
arah dan praktek pendidikan yang berkualitas. "Ya, memang karena
kurikulum itu yang menjadi pedoman penyelenggaraan pendidikan," terang
lelaki yang dikenal suka humor ini.
Di sisi lain, sejalan
dengan statusnya sebagai sekolah rintisan berstandar internasional
(RSBI), kurikulum nasional dinilai tidak cukup oleh SMPN 1 Pandaan.
Status yang disandangnya memaksa lembaga ini untuk melakukan
penyesuaian dengan kurikulum internasional.
Sementara ini kata
Bambang, yang menjadi parameter kurikulum berstandar internasional
adalah Cambridge. "Makanya, kami coba bedah apa dan bagaimana penerapan
kurikulum yang dimaksud itu," terangnya. Hal itu juga sesuai dengan
yang diatur permendiknas tentang kurikulum.
Sejatinya selain
Cambridge dijelaskan Bambang, beberapa negara tetangga juga menerapkan
kurikulum yang sama. Yakni Malaysia dan Singapura. Namun, keduanya
belum termasuk anggota OECD. Yakni, organisasi negara-negara yang
kurikulum pendidikannya sudah diakui oleh internasional.
Bambang
melanjutkan, ada dua cara yang bisa dilakukan untuk menyesuaikan
kurikulum saat ini dengan Cambridge. Yakni, mengadopsi secara
keseluruhan atau melakukan adaptasi. "Bedanya, kalau adopsi itu diambil
keseluruhan. Kalau adaptasi itu kita sesuaikan," terangnya.
Dalam
workshop itulah, beberapa kemungkinan itu dibahas. Termasuk, melakukan
pemetaan kurikulum. Misalnya, mencari kemungkinan bagian kurikulum
Cambridge yang berpeluang untuk diterapkan. "Paling tidak, kurikulum
kita kan juga lebih sempurna karena banyak masukan," terangnya. (jawapos.com)




